NILAI…

dokter-perawat

NILAI

Nilai bebas dipilih, mengandung keyakinan atau perilaku mengenai arti seseorang , subjek, ide, atau tindakan. Nilai sangat penting karena memengaruhi keputusan dan tindakan, termasuk pengambilan keputusan etik perawat.

Perangkat nilai adalah sekelompok kecil nilai yang dianut oleh individu.Sistem nilai adalah dasar jalan hidup, memberi arahan dalam hidup, dan membentuk dasar perilaku, terutama yang didasarkan pada keputusan atau pilihan.

Nilai terdiri dari sikap yang saling terkait , tetapi tidak identik. Sikap adalah posisi mental atau perasaan terhadap seseorang, objek, atau ide (mis: penerimaaan, rasa kasih, keterbukaan).

  • TRANSMISI NILAI

Nilai dipelajari melalui pengamatan dan pengalaman.Akibatnya, nilai sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosiokultural seseorang-yakni, oleh tradisi social; oleh kelomok budaya, etnis, dan agama; dan juga keluarga dan kelompok sebaya.

  • NILAI PRIBADI

Individu mengambil nilai dari masyarakat dan subkelomponya, tetapi mereka menginternalisasi bebrapa atau semua nilai ini dan menganutnya sebagai nilai pribadi.

  • NILAI PROFESIONAL

Nilai prifesional perawat didapat selama soialisasi dengan dunia keperawatan berdasarkan kode etik, pengalaman keperawatan, pembimbing dan rekan sebaya. Watson (1981, hal.20-21) menjabarkan empat nilai penting dalam keperawatan :

  1. Komitmen yang kuat terhadap layanan.
  2. Menghargai harkat dan martabat setiap orang.
  3. Komitmen terhadap pendidikan.
  4. Otonomi professional.

Altruisme adalah perhatian terhadap keselamatan dan kesejahteraan orang lain. Dalam praktik profesional, altruism tercermin dalam perhatian perawat terhadap kesejahteraan pasien, perawat alin, dan penyedia layanan kesehatan lain.

  • KLARIFIKASI NILAI

Klarifikasi nilai adalah proses yang dilakukan individu dalam mengidentifikasi, mengkaji, dan mengembangkan nilai diri mereka. Prinsip klarifikasi nilai adalah tidak ada satu pun perangkat nilai yang dianggap benar bagi semua orang. Salah satu teori klarifikasi nilai yang banyak digunakan dikembangkan oleh Raths, Harmin, dan Simon (1978). Mereka menguraikan “proses penilaian” tehadap pemikiran, perasaan , dan perilaku yang mereka istilahkan dengan “memilih”, “menghargai”, dan “bertindak”.

CARING…

registered-nursing-

     CARING

         Caring adalah kunci perawat mengamalkan ilmunya, sehebat apapun seseorang mempunyai ilmu kalau tidak mempunyai caring, ilmu itu tidak menjadi bermanfaat.

Caring merupakan fenomena universal yang berkaitaan dengan cara seseorang berpikir, berperasaan dan besikap ketika berhubungan dengan orang lain. Caring dalam keperawatan dipelajari dari berbagai macam filosofi dan perspektif etik, artinya bukan hanya perawat saja yang berperilaku caring tetapisebagai manusia, kita juga harus mampu memperhatikan manusia lain.

Watson yang terkenal dengan Theory of Human Care, mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberidan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh, disini terlihat bentuk hubungan perawat pasien adalah hubungan yang wajib dipertanggungjawabkan secara professional.

Menurut watson, ada tujuh asumsi yang mendasari konsep caring. Yaitu :

  1. Caring hanya akan efektif bila diperhatikan dan dipraktikan secara interpersonal.
  2. Caring terdiri dari faktor karatif yang berasal dari keputusan dalam membantu memenuhi kebutuhan manusia atau klien.
  3. Caring yang efektif dapat meningkatkan kesehatan individu dan keluarga.
  4. Caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya saat itu saja namun juga mempengaruhi akan seperti apakah seseorang tersebut nantinya.
  5. Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung perkembangan seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
  6. Caring lebih kompleks daripada curing, praktik caring memadukan antara pengetahuan biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dan membantu  klien yang sakit.
  7. Caring merupakan inti dari keperawatan.

Sikap caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan, dan niat baik. Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis, spiritual dan social. Bersikap caring untuk klien dan berkeja bersama dengan klien dari berbagai lingkungan merupakan esensi keperawatan.

Caring dalam praktik keperawatan

Penting untuk menentukan cara yang selalu menjamin apakah atau kapan perawat menjadi perawat professional. Sikap perawat yang berhubungan dengan caring adalah kehadiran, sentuhan kasih saying, dan selalu mendengarkan klien. Perawat melakukan caring dengan menggunakan pendekatan pelayanan dalam setiap pertemuan dengan klien.

  • Kehadiran

Kehadiran adalah suatu pertemuan orang dengan orang yang merupakan sarana untuk lebih mendekatkan dan menyampaikan manfaat caring. Fredriksson (1999) menjelaskan bahwa kehadiran berarti “ada di” dan “ada dengan”. “Ada di” tidak hanya berarti kehadiran secara fisik, tetapi juga termasuk komunikasi dan pengertian.

Kehadiran juga sangat penting saat klien sedang berada dalam kejadian atau situasi tertekan. Kehadiran perawat membantu menenangkan rasa cemas dan takut karena situasi tertekan. Memberikan penentraman hati dan penjelasan yang saksama tentang prosedur, tetap berada disamping klien, serta memberikan klien petunjuk selama menjalani prosedur tersebut,  semuanya menunjukan bahwa kehadiran sangat berarti untuk kesehatan klien.

  • Sentuhan

Sentuhan akan membawa perawat dank lien ke dalam suatu hubungan. Sentuhan dapat berupa kontak dan non kontak (Fredriksson, 1999). Sentuh kontak seperti kontak langsung kulit denga kulit, sedangkan sentuhan non-kontak adalaah kontak mata.

Sentuhan caring adalah suatu bentuk komunikasi non-verbal, yang dapat memengaruhi kenyamanan dan kemanan klien, meningkatkan harga diri dan memperbaiki orientasi tentang kenyataan (Boyek dan Watson, 1994).

Sentuhan perlindungan adalah suatu bentuk sentuhan yang digunakan untuk melindungi perawat dan/atau klien. Bentuk nyata dari sentuhan perlindungan adalah mencegah terjadinya kecelakaan dengan cara menjaga dan mengingatkan klien supaya tehindar dari jatuh.Sentuhan dapat memberikan banyak pesan, oleh sebab itu harus digunakan secara bijaksana.

  • Mendengarkan

Caring melibatkan interaksi unterpersonal dan bukan sekedar percakapan resiprokal antara dua orang. Mendengarkan merupakan kunci, karena hal itu menunjukan perhatian penuh dan kertertarikan perawat. Mendengarkan termasuk “mengerti” apa yang klien katakan, dengan memahami dan mengerti maksud klien serta memberikan respons balik terhadap lawan bicaranya.Caring melalui pendengaran membuat perawat dalam kehidupan klien.

  • Memahami klien

Salah satu proses caring yang dikemukakan Swanson (1991) adalah memahami klien. Memahami klien berarti perawat menghindari asumsi, focus pada klien, dan ikut serta dalam hubungan caring dengan klien memberikan informasi dan petunjuk untuk dapat berpikir kritis dan memberikan penilaian klinis. Hal terpenting bagi perawat pemula untuk mengenal adalah bahwa pemahaman klien bukan hanya sekedar mengumpulkan data tentang kondisi dan gejala klinis klien.

 

Perilaku Caring

Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, dan bersikap caring sebagai media pemberi asuhan.

Caring act adalah suatu tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh, tindakan dalam bentuk perilaku caring seharusnya diajarkan pada manusia mulai sejak lahir, masa perkembangan, masa pertumbuhan, masa pertahanan sampai deikala meninggal.

Laininger (1991) telah mengembangkan bentuk yang relevan dengan teori tetapi hanya beberapa hal yang didefinisikan :

  1. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, dukungan atau perilaku lain yang berkaitan atau untuk individu lain/kelompok dengan kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
  2. Caring adalah tindakan yang diarahkan untuk membimbing, mendukung individu lain/kelompok dengan nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
  3. Kultur adalah berkenaan dengan mempelajari, membagi dan tranmisi nilai, kepercayaan, norma dan praktik kehidupan dari sebuah kelompokm yang dapat menjadituntutan dalam berfikir, mengambil keputusan, bertindak dan berbahasa.
  4. Curtural care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang mana membimbing, mendukung atau member kesempatan individu lain atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, meningkatkan kondisi kehidupan atau kematian serta keterbatasan.
  5. Nilai kultur berkenaan dengan pengambilan keputusan tentang suatu cara yang hendak dijalani sesuai dengan adat kebiasaan yang dipercayai dalam periode waktu tertentu.
  6. Perbedaan kultur dalam keperawatan adalah variasi dari pengertian, pola nilai atau symbol dari perawatan kesehatan untuk meningkatkan kondisi manusia, jalan kehidupan atau untuk kematian.
  7. Cultural care universality yaitu sesuatu hal yang sangat umum, seperti pemahaman terhadap nilai atau simbol dari pengaruh budaya terhadap kesehatan manusia.
  8. Etnosentris adalah kepercayaan yang mana satu ide yang dimiliki, kepercayaan dan praktiknya lebih tinggi untuk culture yang lain.
  9. Cultural imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksa kepercayaan, praktik dan nilai diatas culture lain karena mereka percaya bahwa ide mereka lebih tinggi daripada kelompok lain.

Sifat-sifat caring seperti sabar, jujur, rendah hati. Ada juga yang berpendapat bahwa caring sebagai suatu sikap rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain.

EMPATHY…

nurse-patient-relationship

EMPATHY

         Empati adalah kemampuan untuk mengenali emosi yang sedang dialami oleh makhluk hidup lain atau fiksi. Kata Empaty dalam bahasa Inggris diciptakan pada tahun 1909 oleh psikolog Edward B. Titchener dalam upaya untuk menerjemahkan kata Jerman “Einfühlungsvermögen”, sebuah fenomena baru dieksplorasi pada akhir abad ke-19 terutama oleh filsuf Theodor Lipps. Ia kemudian kembali terjemahkan ke dalam bahasa Jerman sebagai “empathie”, dan masih digunakan di sana.

          Perilaku empati merupakan salah satu sikap dalam hubungan therapeutic yang merupakan unsur yang sangat penting dalam proses yang berlangsung secara interpersonal. Dengan empati akan membantu dalam mempererat hubungan antara perawat dan pasien sehingga menjadikan pasien merasa diperhatikan dan pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan.

         Florence Nightiangel, tokoh dunia yang mengubah persepsi dunia bahwa perawat itu merupakan pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat. Sebagai perawat dibutuhkan kemampuan khusus yang tidak semua orang memilikinya, yaitu kemampuan empati. Perawat yang memiliki empati diharapkan memiliki kemampuan empati, yaitu kemampuan untuk melakukan aksi komunikasi secara sadar kepada pasien sehingga dapat memahami dan merasakan suasana hati pasien tersebut. Perilaku yang muncul dari tiap perawat terhadap pasien berbeda-beda, hal ini terkait dengan kemampuan empati perawat itu sendiri.

Hal yang mempengaruhi kemampuan empati, yaitu:

1.         pikiran yang optimis

2.         tingkat pendidikan

3.         keadaan psikis

4.         pengalaman

5.         usia

6.         jenis kelamin

7.         latar belakang sosial budaya

8.         status sosial

9.         beban hidup

Ada empat karateristik perawat yang mampu bersikap empati (Wiseman,1996) yaitu :

  • Kemampuan melihat permasalahan dari kacamata klien,
  • tidak bersikap menghakimi,menyalahkan atau menghina,
  • kemampuan untuk mengerti perasaan orang lain,dan
  • kemapuan mengkomunikasikan pengertiannya terhadap permasalahan klien.

 

Manfaat Empati

            Dengan menunjukkan rasa empati terhadap pasien, seorang dokter dapat memetik manfaat-manfaat sebagai berikut: 

  • Menyongkong atau meningkatkan pertumbuhan dalam kesucian, kebajikan, kasih dan hikmat spiritual.
  • Menolong pasien untuk menjadi kuat
  • Menolong pasien untuk mandiri
  • Menolong pasien untuk melihat realitas
  • Menolong pasien untuk mendapat kepastian bahwa masalahnya adalah masalah umum, sudah diketahui penyebabnya, ada metode keperawatan, dsb.

         Dengan kemampuan empati maka perawat memiliki kemampuan untuk menghayati perasaan pasien. Kemampuan empati seorang perawat dipengaruhi oleh kondisi perawat itu sendiri. Perawat perlu menjaga kondisi kesehatan fisik dan psikis, karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain.

ALTRUISME…

pasienALTRUISME

Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat, seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Lawan dari altruisme adalah egoisme.

Pada altruisme salah satu yang penting adalah sifat empati atau merasakan perasaan orang lain di sekitar kita. Hanya altruisme timbal balik yang mempunyai dasar biologis. Kerugian potensial dari altruisme yang dialami individu diimbangi dengan kemungkinan menerima pertolongan dari individu lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa altruisme merupakan bagian “sifat manusia” yang ditentukan secara genetika, karena keputusan untuk memberikan pertolongan melibatkan proses kongnisi sosial komplek dalam mengambil keputusan yang rasional (Latane&Darley, Schwartz, dalam Sears, 1991).

Perawat yang memiliki nilai yang baik pasti akan menggali metode dan keterampilan yang diperlukan untuk memberdayakan asuhan yang efektif (Bishof & Scudder, 1990). Mereka menunjukkan kepedulian terhadap klien dengan mendukung dan menguatkan klien, sehingga klien dapat sembuh dari sakitnya, dapat mengatasi kelemahannya, dan hidup lebih sehat. Mereka peduli dengan kesejahteraan klien. Kehadiran kepedulian seringkali membantu proses penyembuhan (Bishof & Scudder, 1990).

Hal yang mendasari dilakukannya perilaku altruistik menurut Myer (1996) adalah :

  1. Social – exchange

Pada teori ini, tindakan menolong dapat dijelaskan dengan adanya pertukaran sosial–timbal balik (imbalan-reward). Altruisme menjelaskan bahwa imbalan-reward yang memotivasi adalah inner-reward (distress). Contohnya adalah kepuasan untuk menolong atau keadaan yang menyulitkan (rasa bersalah) untuk menolong

2. Social Norms

Alasan menolong orang lain salah satunya karena didasari oleh ”sesuatu” yang mengatakan pada kita untuk ”harus” menolong.”sesuatu” tersebut adalah norma sosial. Pada altruisme, norma sosial tersebut dapat dijelaskan dengan adanya social responsibility. Adanya tanggungjawab sosial, dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan menolong karena dibutuhkan Dan tanpa menharapkan imbalan di masa yang akan datang.

3. Evolutionary Psychology

Pada teori ini, dijelaskan bahwa pokok dari kehidupan adalah mempertahankan keturunan. Tingkah laku altruisme dapat muncul (dengan mudah) apabila ”orang lain” yang akan disejahterakan merupakan orang yang sama (satu karakteristik). Contohnya: seseorang menolong orang yang sama persis dengan dirinya – keluarga, tetangga, dan sebagainya.

Altruisme kadang-kadang sulit untuk dihargai secara sempurna karena abstrak dan tidak dapat dinyatakan secara jelas, dan normalnya terjadi pada tingkat pikiran tidak sadar. Alturism juga kelihatannya berlawanan dengan banyak teori tentang tingkah laku manusia. Untuk alasan ini, alturism memberi fokus untuk penelitian secara antropologi, psikologi, dan biologi.

Ada 2 faktor , yaitu :

  • Faktorpertama menyatakan bahwaindividu mempunyai beberapa bentuk yang menggerakkan mekanisme secara internal. Respon yang digerakkan awalnya diperintah oleh sifat dasar tingkah laku yang dinyatakan, lingkungan sosial, dan kemudian penyesuaian diri bersama terhadap individu.
  • Factor kedua berdasarkan dasar pemikiran bahwa beberapa orang mempunyai karakteristik kepribadian altruistic, dihubungkan dengan nilai dan norma yang telah diinternalisasikan sebelumnya yang biasanya berdasarkan pengalaman sebelumnya menyediakan pertolongandan berdasarkan penghargaan terhadap kebutuhan orang lain.

Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruism memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruism murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan.

Contoh kasus dalam kehidupan :

Ketika nenek saya sakit diabetes , beliau tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, misalnya ke kamar mandi. Karena saya peduli dengan beliau maka setiap beliau ingin ke kamar mandi saya membantu beliau untuk ke kamar mandi.

 

 

Sumber :

  • ”caring” kunci sukses perawat/ners mengamalkan ilmu
  • Perry Potter (2005) Fundamental Keperawatan
  • Buku ajar fundamental keperawatan konsep, proses, dan praktik